Geografis

Mompang Julu terletak di kaki pegunungan Bukit Barisan, sehingga struktur tanahnya tidak sepenuhnya datar, tetapi bergelombang dan berbukit-bukit. Jika dilihat dari model dasarnya, hampir seluruh kampung ini dan persawahannya berada pada sudut miring antara 10-40 derajat, dengan medan dan perbukitan yang terjal hingga hampir 80 derajat pada sudut miring, jadi bisa dipastikan bahwa mata air amat banyak di desa ini terutama di rura (lembah) bukit-bukitnya. Dari Data dari Pemda Madina, luas desa Mompang Julu adalah sekitar 1.560,41 Ha walaupun menuru kami jauh lebih luas dari itu disebabkan pemkab Madina mungkin memasukkan sebagian besar  perbukitan Dolok Malea menjadi wilayah Mompang Jae, dengan jumlah penduduk mencapai 5113 pada tahun 2007.

Dengan luas ± 10 km persegi, sebagian besar di dominasi oleh lahan perkebunan karet (35%), perkampungan (20%), persawahan dan ladang (30%) dan sisanya adalah hutan dan semak belukar yang terutama di bukit-bukit di Dolok Malea. Walau secara geografis terletak di dekat garis khatulistiwa (01 derajat LU), musim hujannya adalah dari bulan Oktober-Maret dan kemarau di bulan April-September, namun seiring dengan pemanasan global sekarang ini, perubahan musim jadi tidak menentu. Pada 1998, kemarau yang hebat di hampir seluruh Sumatera khususnya di Mompang Julu menyebabkan debit air sungai Siala Payung tidak sampai ke sebagian besar sawah bahkan ketika mendekati perkampungan, sungai ini kering sama sekali, dan karena tiadanya air tersebut, sawah-sawah menjadi kering sehingga banyak penduduk mengubahnya menjadi kebun karet, hingga sekarang hampir semua sawah di dolok (utara) kampung ini telah menjadi karet, terutama karena harganya yang relatif tinggi pada sekitar tahun 2004-2008.

Desa Mompang Julu berbatasan dengan :

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Bukit Barisan (Dolok Malea)
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan Sarak Matua
  3. Sebelah Selatan/Barat Daya berbatasan dengan persawahan desa Gunung Barani/Rumbio
  4. Sebelah Barat/Barat Laut berbatasan dengan Mompang Jae.

Anda mungkin dapat menggunakan Google Earth untuk melihat peta Mompang Julu (walaupun tidak secara langsung menunjukkan kampung ini, tapi dekat dengan Panyabungan yang dapat di lihat). Klik di sini untuk masuk ke Google Earth versi Satelit atau di sini untuk  Google Earth versi map.

Keseharian

Mata pencaharian penduduk masyarakat Mompang Julu sebagian besar adalah Petani/usaha pertanian (75%), perekonomian (10%), jasa dan lain-lain (15%). Dengan mayoritas petani, karet merupakan tanaman yang sangat penting, bahkan pada sebagian warga, karet adalah satu-satunya sumber penghasilan. Dengan harga relatif tinggi (Rp. 6.000,-), seharusnya kehidupan masyarakatnya pastilah bagus, atau setidak tidaknya diatas garis kemiskinan, tapi lihat saja waktu adanya pembagian dana BLT dari dana kompensasi kenaikan BBM, karena dirasa tidak adil, ada anggota masyarakat yang berkelahi atau hampir-hampir berkelahi. Kenapa hal ini terjadi ?

banjar1Hal itulah yang menyebabkan banyaknya para pemudanya yang memilih merantau seperti ke Medan, Pekanbaru, Pulau Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi, bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia dan Brunai. Sedangkan dari segi pendidikan, rata-rata yang tamat / tidak tamat SD ± 45%, SMP ± 25%, SMA ± 15% dan Sarjana/Akademi kurang dari 5%. Setelah tamat SD, banyak anak-anak yang melanjutkan ke SLTP atau ke Pesantren atau tidak melanjutkan sama sekali, namun kebanyakan putus ditengah jalan, terutama anak laki-laki di pesantren. Memang dapat dilihat minat masyarakat untuk melanjutkan study anak-anaknya sangat kurang, bahkan bagi yang mampu sekalipun. Mereka lebih suka anaknya dekat dengan mereka daripada belajar jauh-jauh seperti di Medan, Pekanbaru dan Padang. “Sekolahpun kalau mau nyari kerja tetap nyogok-nya” itulah ungkapan yang sering mereka lontarkan.

Beberapa orang dari mereka yang merantau di berbagai daerah bahkan luar negeri banyak yang telah berhasil, atau setidak-tidaknya kehidupannya dirasakan lebih baik daripada di Mompang Julu. Tapi banyak juga mereka terutama yang telah berhasil lupa dengan kampung halamannya. Entah karena tidak mengenal kata “balas Budi” atau tidak peduli sama sekali untuk membangun kampungnya setidaknya membantu orang yang mau merantau ketempatnya.

saba8Para perantau yang tidak lupa kampungnya, terutama kepada keluarganya, sering mengirimkan sejumlah uang sehingga sedikit banyak telah meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kehidupan sosialnya amatlah peka, dengan adanya ketimpangan ekonomi/sosial di sana sini, sering menimbulkan permusuhan diam (api dalam sekam) yang siap-siap kapan saja meledak bak bom waktu. Maka tak heran, bila tetangga kita yang dua hari lalu makan di rumah kita hari ini bisa datang marah-marah bagai orang kesurupan.

Arus informasi yang mengalir deras dan tak mengenal sisi positif atau negatif (walau sebagian besar hanya efek negatif), baik dari TV/VCD/DVD terutama dari Parabola Digital, turut mengimbas kehidupan muda-mudinya. Dulu orang mengenal istilah pacaran hanya lewat markusip, tahukah anda markusip itu apa? Tanyakanlah kepada orang-orang tua anda. Sekarang walau mungkin istilah pergaulan bebas belum tepat dikenakan, tapi arah-arah kesana pastilah ada. Dulu kalau anda jalan-jalan pada malam hari dan terutama di waktu sekolah libur,  diantara jam 20.30 sampai 22.00, lihatlah di parik-parik (halaman belakang) rumah tertentu yang gelap atau agak gelap, kemungkinan anda melihat orang yang pacaran adalah 3:1, bisa ditebak apa pekerjaan orang yang bukan muhrim berduaan ditempat seperti itu. Tapi dengan boomingnya penggunaan handphone, hal itu mungkin sudah jarang ditemukan sekarang. Walau secara umum kehidupan masyarakatnya religius (100 % Islam), tapi hal seperti ini tidak banyak mendapat perhatian, karena terutama wanitanya banyak juga yang berlatar belakang pendidikan agama. Mungkin jika suatu saat anda disini dan ingin memperbaikinya, pastilah anda dibilang orang kurang kerjaan. Tapi didiamkan saja akan makin menyemakkan hati, karena kitapun kena dosanya. Memang kalau kita lihat semua ini, pastilah kita ingin pergi dari kampung ini, namun jika kita semua pergi, siapa lagi yang akan memperbaikinya ?

5 Balasan ke Geografis

  1. hatta mengatakan:

    situs blog ini sangat bagus
    situs mendukung Pemerintah Indonesia dlm VISIT INDONESIA 2008

  2. kaka loebis mengatakan:

    urang tang kas dope peta nai so ni da mompamg julu
    hahahahahah…………….

  3. Dina mengatakan:

    kanget au ruana adong do baya mamajuon tanah air..
    au kapan ya bisa…..

  4. putra pengembara mengatakan:

    Namantap mai kahanggi…mudah2 bs amu jd Fropsor kahanggi…hehe..

  5. jamal mengatakan:

    Bagus Brooo!!! Mungkin lebih lengkap lagi!! ditambah! perpustakaan tentang ilmu pendidikan atau panduan yang lain biar lebih bermanfaat bagi seluruh masyarakat Madina Pada umumya!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: