Ooo…Mandailing Godang, Tano Ingananku Sorang

Judul tulisan ini diambil dari salah satu bait puisi mahakarya Willem Iskandar dalam bukunya yang sangat fenomenal “Sibulus-bulus Sirumbuk-rumbuk”. Buku yang mendapat apresiasi tinggi dikalangan budayawan, bukan hanya budayawan yang berasal dari tanah mandailing, atau mereka yang melakukan riset tentang suku bangsa dan adat-istiadat masyarakat mandailing. Bahkan, kolonial Belanda yang waktu itu menjajah nusantara memberi apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada penulisnya atas karya tersebut.

“Sibulus-bulus, Sirumbuk-rumbuk” adalah mahakarya sastra yang tidak ada tandingannya hingga saat ini, yang mampu menggambarkan karakteristik  budaya dan masyarakat Mandailing secara utuh. Didalamnya terkandung kumpulan nilai yang merupakan ruh dari masyarakat Mandailing itu sendiri. Bukan hanya sebagai sebuah karya sastra, tapi lebih dari itu, makna yang terkandung dari setiap bait puisi dan paragraf kisah yang tertoreh, menghunjam jauh ke sanubari setiap orang yang membacanya, sehingga mampu memahami keluhuran yang hidup ditengah-tengah masyarakat Mandailing.

Tulisan ini, tidak dalam rangka untuk membedah semua pemikiran Willem Iskandar mengenai kebudayaan masyarakat Mandailing yang tertuang dalam buku tersebut. Namun, hanya akan membicarakan salah satu unsur saja, dari sekian banyak unsur yang mendukung lahir dan hidupnya suatu kebudayaan, secara khusus kebudayaan Mandailing, yaitu unsur bahasa.

Bahasa merupakan media untuk menyampaikan pesan dari satu orang kepada orang lain, atau lebih dikenal dengan sebutan sebagai “media komunikasi”.. Akan tetapi, bagi suatu masyarakat yang menjunjung tinggi kebudayaan, bahasa bukan hanya sebagai media komunikasi, namun lebih dari itu, bahasa menjadi identitas budaya (culture identity) yang akan menunjukkan kepada masyarakat lain, bahwa mereka adalah masyarakat berbudaya dengan karakteristik yang khas, serta memiliki tata nilai yang patut mendapat penghargaan dan penghormatan dari masyarakat berbudaya lainnya.

Realitas masyarakat saat ini, dimanapun berada, tengah dihadapkan pada suatu tantangan akan ketersinggungan (similarity) antara budaya yang satu dengan budaya yang lain, hampir dalam semua aspek. Begitu juga dengan bahasa Mandailing, saat ini tengah berhadapan dengan arus budaya lain yang yang mampu menggerus eksistensinya, bahkan ditengah-tengah masyarakat Mandailing itu sendiri.

Sebagai contoh, barangkali perlu penulis sampaikan sebuah pengalaman, yang penulis alami satu minggu yang lalu. Salah seorang tante yang datang berkunjung kerumah dalam rangka silaturrahim lebaran, tiba-tiba tertawa ketika mendengarkan seorang tante yang lain yang juga hadir pada saat itu, menyebutkan kata “pamispisan”. Ternyata, bukan kata itu yang ditertawakan, tapi sebuah kata yang diucapkan oleh kakak dari tante tersebut, ketika dalam perjalanan menuju rumah penulis, sehari sebelumnya. Menurut pengakuannya, sudah puluhan tahun dia tidak mendengar kata itu, bahkan ketika mendengarnya, dia sampai berfikir lama apa maksudnya, hingga kakaknya mengulangi kembali kata tersebut, kata yang dimaksud adalah “alibutongan”, yang berarti “pelangi” dalam bahasa Indonesia.

Ini hanya contoh sederhana yang terjadi saat ini, tanpa berpretensi negatif, penulis berkeyakinan bahwa ada banyak orang Mandailing yang sama seperti contoh diatas, atau bahkan lebih parah, terutama para generasi muda saat ini. Ketika mendengar suatu kata dalam bahasa mandailing yang tidak pernah didengarnya, ada yang bertanya apa maksudnya (ini sikap yang baik), ada yang menertawakan (ini sikap yang kurang baik), atau mungkin ada yang mengejek atau menghina (ini sikap yang tidak baik dan tidak mengahargai nilai-nilai budaya) orang yang mengatakannya.

Sebagai pemilik atas bahasa tersebut (bahasa Mandailing), setiap pribadi dari masyarakat Mandailing, memiliki kewajiban yang sama untuk memeliharanya. Setidaknya, ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk mempertahankan eksistensi bahasa Mandailing sebagai bagian dari kebudayaan masyakat Mandailing itu sendiri. Pertama, menggalakkan aktifitas kebudayaan di tanah Mandailing, maupun oleh komunitas masyarakat Mandailing yang ada di perantauan. Kedua, menumbuh-kembangkan rasa kepemilikan terhadap kebudayaan Mandailing, terutama kepada generasi muda, dengan cara melibatkan mereka dalam berbagai aktifitas kebudayaan. Ketiga, menjadikan keluarga sebagai ujung tombang dalam melestarikan dan memelihara kebuadayaan Mandailing, secara khusus bahasa Mandailing.

Yang tidak kalah penting, adalah “kemauan” dari segenap komponen masyarakat Mandailing untuk turut serta dalam upaya melestarikan, memelihara, serta menjaga bahasa Mandailing agar tetap menjadi bagian dari culture identity, yang merupakan wujud dari eksistensi kita sebagai masyarakat yang berbudaya. Hanya kita yang mampu melestarikannya dengan benar, karena hanya kita yang memiliki ruh dari kebudayaan Mandaling didalam diri kita.

Untuk seluruh masyarakat Mandailing, di bumi manapun berpijak. Semoga bermanfaat.

Penulis : Muhammad Taufik Nasution, SH. Saat ini sedang mengambil Megister Hukum di Universitas Sumatera Utara

10 Balasan ke Ooo…Mandailing Godang, Tano Ingananku Sorang

  1. lianlubis mengatakan:

    botulmada amang nadidokonmi, uambang na au sajo nalupa sasaotik bahasa ni dainangi (bhs mandailing) apalagi au madung puluhan taon rantau. ampe halak hita na tinggal di mandailingon pe bisa do lupa. tanggal 20 sept 2011 nalewat au mangirim sms tu anggi (anak ni bou) manyapai sanga aha do arti ni MARKATIMBUNG,…

  2. azhari12nasution mengatakan:

    nda dong nga puisi mandailing ,, tentang pendidikan,,,,,
    maido tolong baen uda jolo bpe nasanga etekna,,,

  3. azhari12nasution mengatakan:

    nda dong nga puisi mandailing tentang pendidikan,,,
    maido tolong tolong baen jolo e,, bope na etekna sanga apakna,,,

  4. Asharuddin Nasution mengatakan:

    nda dong dompak kahang. Mang lagi diperlombaon ubege penulisan puisi Bahasa Mandailing ima so na bahatan halak na manjalaki

  5. Mangarahon Rambe mengatakan:

    Baen kamu jolo sitogol di tulisan muyu on Nasution.Sitogol parsidangolan aso mangalehen semangat tu daganak da.Aso ringgas daganak sikola.

  6. irpan batubara mengatakan:

    Tambai amu jolo uda aek milas nai so kehe iba namrlulun on

  7. Hafis Nasution mengatakan:

    Anggo mengenai bahasa mandailing on do huida copat do perkembanganna harana bahasa mandailing inda adong pantangan menyerab hata hata asing contohna Sitokar motor mungkin serapan sian bahasa inggris Stock dimbah akhiran ae manjadi Stockar = pemuat barang . jadi inda asing be dihita sannari haranamadung umum dipakai halak contoh laiina dorap hudorapkon ho annon mungkin serapan dari bahasa arab Doroba uadribu dorban = pukul. hudorapkon ko annon kupukul kau nanti. dan lain lain , kalau sudah terkenal tidak asing lagi bagi kita contoh lain meeting = rapat contohna au umak dompak meeting dope namanelepon i umak = saya lagi sedang rapat ibu waktu ibu nelepon saya tempo hari. . tai hata hata na asing seperti mamispis ( Alibutongan =pelangi ) aupe ondope huboto i. hata hata moncot , moncot do hita dison , nginap kita disini. jadi antara suku dihita atope sesuku corak bahasanya bisa berbeda beda tetapi secara umum masih bisa di mengerti oleh para pelaku di etnik tersebut.

  8. Hafis Nasution mengatakan:

    OLo denggan mei anso tetap hita galakkon mempertahankan budaya kita mandailing i pandok ni natobang tobangi songon abit natogu dei nasora buruk, maksudnya kalau abit itu selalu di pakai tentu lama sekali dia buruk atau aus makanya kalau meminjamkan abit jangan sangsi sangsi atau jangan pelit lah itu maksudnya supaya abit itu tetap togu atau utuh tar songon bagas dei pala di tinggalkon momodei buruk atau mudah sekali lapuk jadi lebih baik itu rumah dipinjamkansaja atau di sewakan saja .

  9. Hafis Nasution mengatakan:

    Pala marsapa iba tentang arti sesuatu terkadangdipartatai halak iba jadi ro mei diperasaan niba bahaso iba napakotakotaon ataupe mabiar iba didokon halak iba halak kampung maklumma hita mandailing kadang sudedo sala Jungada musedo hudokon bahasao inda tabo hulala gule bulung gadung bo roma gelombang martubi tubi berupa uapatan tu au markaluaran masude hobar naso tama begeon . jadi pengalaman mei diau manjago hobar di jolo ni halak MANDAILING

  10. nurhalimah mengatakan:

    inda langa adong le puisi mandailing na lobi gidik be..??so seru dabo baya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: