Muara Sipongi, Sebuah Daerah yang Terlupakan? (Bagian 2-Habis)

Tim berangkat dari Panyabungan sekitar pukul 11.10 WIB dan diperkirakan Jum’at akan sampai di Muara Sipongi. Sepanjang perjalanan, keadaan perkampungan, persawahan yang indah berikut pegunungan dan hutan-hutannya menjadi pemandangan.  Alangkah indahnya  alam Mandailing ini. Setelah bersilaturrahmi sejenak dengan keluarga Rahmat Lubis di Kotanopan, rombongan bergerak kembali ke Muara Sipongi dan sampai sekitar pukul 12.15 menjelang shalat Jum’at. Tim beristirahat di rumah salah seorang tokoh masyarakat di Desa Koto Baringin tersebut. Setelah beramah tamah dengan tokoh masyarakat dan masyarakat Koto Baringin sejenak diselingi bahasa Morsip yang ditelinga penulis sama sekali asing karena hampir tidak ada miripnya dengan bahasa Mandailing, tapi lebih dekat dengan bahasa Minang bahkan bahasa pesisir Painan, mobil pick up yang membawa hewan kurban tersebut sampai dari Panyabungan. Pemandangan yang indah dengan untaian perbukitan di sekitar desa tersebut juga menjadi pencuci mata yang sebelumnya mengantuk tidak karuan di mobil ketika diperjalanan.

Adzan menandakan tibanya waktu shalat Jum’at berkumandang dan tim segera bergegas ke mesjid yang letaknya di pinggiran sungai Batang Gadis (?). Masyarakat sekitar memanfaatkan sungai tersebut untuk segala keperluan seperti halnya warga di pinggir Ciliwung. Bedanya sungai di sini masih bersih. Kondisi mesjid yang memprihatinkan dari pandangan penulis menjadi tempat pelaksanaan shalat. Pada dinding dan langit-langit sekitar masjid sebagian “dicemari” sarang laba-laba dan debu. Tikar dan sajadah di mesjid ini pun merupakan tikar dan sajadah seadaanya. Padahal dengar-dengar banyak juga orang yang kaya dan sukses yang berasal dari kampung ini. Mungkin Allah belum membukakan hati sebagian dari mereka untuk memakmurkan mesjid.

Setelah shalat Jum’at, begitu naik tangga dari mesjid ke atas (jalan raya)  yang sebagian sudah hampir rusak, serah terima seekor hewan kurban segera dilakukan oleh tim dengan masyarakat Koto Baringin. Tak lupa penulis yang mengambil beberapa dokumentasinya. Seekor lembu lagi akan dibawa ke desa Tanjung Medan yang terletak sekitar 2 km dari Koto Baringin, tapi masuk melalui jalan setapak yang sebagian besar tidak teraspal dan kalaupun teraspal, sudah rusak di sana-sini plus longsoran tanah dari perbukitan di pinggir jalan tersebut. Kata seorang anggota tim penghubung yang ikut dari Panyabungan, beberapa hari sebelumnya jalan ini mengalami longsor yang parah dan tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. Padahal jalan ini tembus ke Sumatera Barat. Kenapa jalan ini kurang mendapat perhatian dari pihak terkait, mungkin kita hanya bisa bilang “Tanya Kenapa?”.

Sesampai di desa Tanjung Medan, setelah mengambil beberapa dokumentasi, tim segera menghubungi kepala desa yang bersangkutan. Memang sebelum kedatangan tim, hal ini sudah di sampaikan. Alangkah terkejutnya penulis ketika kepala desa Tanjung Medan mengatakan bahwa untuk tahun ini tidak ada yang berqurban di kampung itu dan mereka sangat bersyukur atas kedatangan tim PKPU ini.

Setelah serah terim hewan qurban dari tim ke penduduk desa Tanjung Medan yang diterima langsung oleh kepala desa, hewan tersebut segera di sembelih. Antusias masyarakat dalam bergotong-royong mulai dari menyambut tim penulis, memotong hewan kurban, sampai kepada pembagian hewan qurban patut mendapat acungan jempol, walaupun ketika beramah tamah dengan anggota masyarakat banyak anggota tim yang sama sekali tidak mengerti bahasa Morsip yang mirip bahasa Minang itu.  Ketika ada anggota tim yang akan membantu proses penyembelihan dan pemotongan, masyarakat melarang karena bagi mereka akan sangat tidak menghargai kami apabila membiarkan kami yang sudah membawa hewan qurban, masih harus bekerja dalam proses penyembelihan dan pemotongannya. Nantinya hal ini akan berbeda jauh dengan yang dialami tim kami ketika melakukan hal yang sama di desa Lubuk Kapundung, Siulang-aling.

Tim dipersilahkan beristirahat di rumah pak Kepala Desa dan dipersilahkan juga mengawasi proses penyembelihan dan pemotongan daging qurban. Sambutan dari masyarakat desa tersebut bagi penulis, sudah jarang di jumpai di Mandailing. Mereka berduyun-duyun untuk menyalami anggota tim sambil menyuguhkan makan dan minuman ala kadarnya.

Kondisi masyarakat Tanjung Medan memang memprihatinkan. Entah sudah keturunan atau bagaimana, supir kami yang berasal dari Medan terheran-heran melihat tinggi rata-rata masyarakat di desa tersebut yang relatif pendek dan hampir tidak ada yang tingginya melebihi 160 cm (?), baik laki-laki maupun perempuan. Kondisi anak-anak di sinipun seperti kurang mendapat gizi yang layak bagi anak yang dalam masa pertumbuhan. Akses Kesehatan minim dengan tidak adanya Posyandu di desa tersebut. Puskesmas hanya ada di Muara Sipongi.

Penulis yakin, keadaan ekonomilah yang menjadi penyebab utamanya di samping mungkin rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pola makan sehat. Masyarakat yang mempunyai penghasilan hanya dari menyadap karet, nira dan mengambil hasil hutan tentu masih berada di bawah garis kemiskinan walaupun di desa ini juga terdapat rumah yang dari ukurannya pasti dimiliki oleh orang yang sudah mampu. Ketika ditanya kepada salah seorang anggota masyarakat mengenai imunisasi dan penyuluhan kesehatan dari dinas terkait, hampir tidak pernah. Luar Biasa menyedihakannya. Topografi desa tersebut juga menyulitkan akses komunikasi dengan dunia luar melalui telepon seluler. Sinyal HP sangat sulit diterima oleh handphone karena terhalang oleh perbukitan yang mengelilingi tidak hanya desa tersebut, tapi hampir sebagian besar wilayah kecamatan Muara Sipongi memang memiliki topografi yang bergunung-gunung.

Tim meninggalkan desa Tanjung Medan setelah pembagian daging hewan qurban dengan membawa kesan yang mendalam. Ternyata pembangunan Madina yang Madani yang gaungnya terdengar dimana-mana masih kurang dirasakan oleh mereka yang ada di pelosok, di gunung-gunung maupun di daerah terpencil lainnya.

18 Balasan ke Muara Sipongi, Sebuah Daerah yang Terlupakan? (Bagian 2-Habis)

  1. damhadi lubis mengatakan:

    bukan terlupakan, karena msh banyak generasi morsip yg msh menyusun strategi dlm pembangunan ke depan…tetapi memang belum tersentuh oleh dakwah…

  2. syawal mengatakan:

    salam hormat rekans semua, teriring salam dan do’a.
    mohon izin, mengenalkan diri saya syawal.pada tahun 1992,saya datang ke muara sipongi, berjalan kaki sejauh 8 kilometer,dari mulai pertama desa sampai ujung. teman saya dari morsip ini banyak juga, dan kami tinggal satu banjar di pondok pesantren purba baru,..saya akan siapkan cuti untuk berziarah dan silaturahmi lagi ke morsip ini, mungkin dari rekan ada yg bisa bantu untuk guidance saya,..mungkin saya masih bisa practise bahasa morsip saya.saya tunggu dan silahkan kontak saya di syawal2010@gmail.com
    salam dari papua

  3. icah lubis mengatakan:

    assaiamu’alaikum apa khabar saudara-saudaraku urang morsip oku icah kini tgl diperawang siopo bilang morsip terlupakan oku kiro itu salah besar karena oku alhamdulillah akan selalu ingat dan begitu juga mungkin saudara-saudara ku dein,kifli dan butet hanya karena kita dah merantau dah punya keterbatasan waktu jadi sulit untuk pulang tapi saudara-saudaraku hampir tiap tahun pulang jadi bagaimanapun juga yang namanya kampung halaman akan selalu kita kenang, begitukan saudaraku urang morsip?.morsip…semoga morsipku makin maju dan masyarakatnya makin sejahtera amin,salam dari kami sekeluarga,Perawang,Jambi dan Medan,wassalamu’alaikum wr.wb

  4. wawa talarangin mengatakan:

    bapo keba koup-koup sodonyo…,.,,,,,?????

  5. fahrur rozi mengatakan:

    morsiip itu undo penah tolupoke walaupun kito jauh tapi hoti kito slalu do morsi dan slalu berusaho memberike non trbai untuk morsiip ………jaya morsiip

  6. ridwan@mail.com mengatakan:

    alah ndo bo pitih laey

  7. andre mengatakan:

    sojauh-jauh nyo morantuo totop ingek d kampuk genk

  8. Wahyu Daniel.SE mengatakan:

    Ass wr wb, saya adalah cucu Alm. Mahmud lubis bin alm. Rahmad Lubis. Ketila Atok saya alm. Mahmud Lubis masih berumur 2 bulan di gendong Ayahnya alm. Rahmad Lubis menuju Kota Medan berjalan kaki (dahulu blum ada Sibual-buali ato ALS) selama 3 bulan, mgkn saja utk merubah nasib. Saya sbg anak cucu turunan dr keluarga besar Muara Sipongi sangat dan sangat ingin ke Muara Sipongi. Adakah saudara2 ku keluaraga besar Muara Sipongi punya contact person yg bisa saya hubungi disana. Hp saya : 0813 7336 2366. Pin BB : 234115f2. Salam dari Bangka Belitung.

  9. Asharuddin Nasution mengatakan:

    Wkslm Wr Wb.
    Terima kasih atas kunjungannya ke blog ini. Mudah2 an ada saudara2 kita dari Muara Sipongi masih mengenal family kita yang disebutkan di atas.

  10. t rambe mengatakan:

    Kamana bujak haminajolo tinggal i samping ksntor camat bagas na ditopi ni tobat i donok dohot si mami bule

  11. Rita mengatakan:

    Khusus nya,masarakat tj.alai smoga sht slalu..amin..!

  12. Syahru Romadhoni mengatakan:

    Pertama, blognya bagus (apalagi kalau alih domain berbayar)
    Kedua, saya alak Morsip juga, secara kebetulan juga dari Tj Medan. Baca artikelnya emang pukulan tersendiri, Artikel ini dipost awal 2010 berarti saya masih kelas 10 waktu itu dan gak dipungkiri memang (dulu) begitu keadaannya. Tapi sekarang udah banyak renovasi, pembangunan juga pengembangan utk layanan masyarakat. Kita2 juga punya sdm yg gak hanya sperti deskripsi diatas, tapi In Sya Allah berkualitas. Kita punya Generasi2 Tanah Hulu [GeTaH], Muara Sipongi bukan (lagi) daerah yang terlupakan.

  13. syawal2010 mengatakan:

    syahru romadhoni apa kabar?? kapan ke tanjung medan??? saya mungkin minggu depan akan ke mompang dan seterusnya ke sumatera barat. kontak saya ya PIN BB288ED220 atau 081240762076, salam

  14. Asharuddin Nasution mengatakan:

    Terima kasih atas kunjungannya..alih domain blog ini memang sudah lama direncanakan..tapi karena beberapa hal sampai sekarang belum terlaksana. InsyaAllah akhir tahun ini atau tahun depan blog ini akan dialih domainkan.

  15. Syahru Romadhoni mengatakan:

    Maaf baru liat komentarnya bg Syawal, salam kenal,, saya ke Tj Medan mungkin ramadhan depan, ini masih di Jogja soalnya 🙂
    Pin 7541f0a1 No 0878-6860-2337

    Mantap bg Asharuddin,,, di update terus bg, numpan download lagu2 nya juga😀

  16. afnisya nasution mengatakan:

    Untuk semua warga masyarakat muara sipongi semoga selalu diberi kesehatan dan kesjahteraan dari allah swt. Khususnya untuk masyarakat desa simpang mandepo karena kbetulan saya berasal dr sana, saya tidak akan pernah melupakan muara sipongi dimanapun saya berada,,,,,,,, maju terus muara sipongi!!!!”””” Semakin jaya!! Amiiinnn

    Salam
    Afni

  17. mahrani mengatakan:

    saya juga bersasal dari muara sipongi, keluarga dari ayah smua tinggl disana tepatya di kampung pinag sbelahan dgn tanjung meda, disaat sya berumur 4-5 thun smpat tggal dsna, nmun krna ekonomi yg sulit trpksa pindah ke tapanuli selatan kampung ibu. rsa rindu mgunjungi kmpung halaman jd tersa lbih. dlu dsana kalu mau pergi ke pasar muara sipongi sudah naik bus yang padat stiap hr kamis. makan apa saja psti rsanya enak dan nambah lgi, lagi hahhahah jd trngat msa2 kecil…udara yg dingin dan sejuk mnjdi ciri khas, dan betul org morsip mmg rata2 postur tubunya pendek2, nmun ada jg yg tnggi…kopi dan jeruk sngat bnyak dsna. sungai batang gadis yg jernih mnjdi tmpat berenang dan balubuk stiap hari, krna dkat dibelakang rumah. bhsa morsip jg lain dr bhs mandailing atau batak angkola, samapi skrg kmi sklurga msih sring mnggunakannya drumah, dan berkomunikasi dngn sanak family yg ada di morsip….lwt hp .smga muara sipongi jaya slalu……..Rindu Sungguh Oku Kini Ko Kaut….hihihi

  18. zulham efendi mengatakan:

    mebaca dan menyimak artikel yang ada di blog ini serasa ingin kesana rindu akan kampung halaman (Muara Sipongi) Khususnya Jalan Pakantan yaa.. tepatnya Simpang Mandepo desa paling ujung yang berbatasan langsung dengan kecamatan pakantan. Iya memang dulu kondisi disana tidak jauh berbeda seperti yang di paparkan penulis yang jauh dari kata layak dari sarana dan prasarana tapi kondisi sekarang ini syukur alhamdulillah lebih baik dari yang penulis paparkan sebelumnya sarana dan prasarana di sana sudah mulai memadai , yang dulu keterbatasan di semua akses sekarang bisa mengikuti walau pun dengan setap dua tapak kaki tidak lagi tertinggal seprti dulu, yang dulu transportasi terhalang dengan kondisi jalan yang idak layak sekarang sudah mulai ada perbaikan yang di tandai dengan pembangunan jembatan baru di daerah tanung medan (Jambatet Botu cuntuk) jembatan yang di desa Tj Larangan (Mortolaok) serta jembatan yang ada di daerah Desa Simpang Mandepo(Singirindak) dan beberapa jengkal lainnya yang tak dapat di sebutkan satu persatu, dan kabarnya lagi semua jalan Pakantan atau akses untuk berhubungan dengan kecamatan Muara Sipongi Akan segera di perbaiki, dan semonga kabar itu tidak hanya Isapan jempol belaka dan tidak hanya janji manis para pihak yang bewenang. semuanya itu tidak lepas dari doa serta dukungan kita semua (urak jalet pokantet).
    semoga saudara – saudara kita disana di beri kenyamana dan ketentraman. dan khusnya warga Simpang Mandepo “oku rindu do suasana do kito tu.. khusunyo do mamak ku Oku rindu domamak. Ullam sayag do mamak de do ayah.”🙂
    dan para rekan – rekan selamat berjuang untuk masa depan Tanah Hulu kita dan semoga menjadi lebih baik lagi. Nasib tanah Hulu ada di tangan para generasi penurus yang peduli akan perubahan Tanah Hulu.

    selamat berjuang

    Zulham efendi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: