Marmangan-mangan (Makan-makan)

Marmangan-mangan (makan-makan) sudah menjadi sebuah tradisi di Mandailing dan daerah Tapanuli bagian Selatan. Marmangan-mangan adalah acara makan bersama, biasanya oleh diadakan keluarga yang sedang kedatangan family ataupun tamu (koum), baik dari rantau maupun dari kampung lain untuk menghormatinya. Marmangan-mangan juga biasa dilakukan ketika Mangulakkon Andege bagi orang yang baru menikah. Namun, marmangan-mangan biasanya lebih identik dengan acara makan-makan ke sawah/ladang, ke kebun maupun ke tempat-tempat seperti sungai. Sedangkan acara wisata ke luar kampung disebut Marlao-lao ataupun Marmayam.

Acara marmangan-mangan ini (dulu?) hampir tiap akhir pekan (Sabtu dan Ahad) selalu saja ada. Kalau di Mompang Julu tempat yang bagus terletak di hampir semua Saba Opong dan Saba Dolok, juga di Bendungan Air. Kalau mau mencoba yang jauh tetapi indah, bisa di Sampuran na Donok. Biasanya yang suka marmangan-mangan adalah Naposo Nauli Bulung-nya (muda-mudinya) dikarenakan dahulu komonikasi antara seorang gadis dan pemudanya terbatas (tidak seperti sekarang yang hampir 24 jam dengan banyaknya HP). Jadi acara ini menjadi kesempatan untuk berinteraksi.

Ada juga poso-poso (pemuda) yang (mungkin) mambal atau anti marmangan-mangan dengan para perempuan, rame-rame pergi maramangan-mangan. Kalau yang seperti ini, yang dimasak bisa dari yang paling mahal seperti ayam sampai yang tanpa modal seperti mangarsik (menimba parit untuk menangkap ikan) dan memancing di kolam. Kalau lagi tidak ada rezeki dapat ikan, manggule pau pun jadilah. Poso-poso Tanaon, poso-poso banjar Julu dan Banjar Lombang dulu seringkali marmangan-mangan sampai-sampai ayam-ayam di banjar-banjar (lorong kampung) banyak yang hilang, karena bagi yang berfikiran mau makan enak tanpa modal, solusinya adalah nyolong ayam ataupun itik.

Acara seperti ini sebetulnya sangat bagus untuk silaturrahmi bahkan untuk belajar masak bagi para poso-posonya. Bahkan ada orang yang hendak manjalaki boru (mencari pasangan hidup) yang menjadikan ini semacam acara ta’aruf (walaupun tidak bisa disamakan). Dan tidak dapat disangkal penulis sendiri merasakan kadang-kadang masakan laki-lakinya lebih enak daripada masakan para perempuannya ketika marmangan-mangan, biarpun perempuannya seoerang fatayat (santri putri) di Mustafawiyah Purba Baru ataupun Darul Ikhlas Dalan Lidang yang mengenal tips dan trik memasak selama bertahun-tahun, entah karena fatayat-fatayat ini ke-GR-an ketika memasak sehingga sering garamnya kelebihan. Ujung-ujungnya mie goreng terasa seperti taucho.

Sebagian orang tua melarang anak-anaknya, terutama putrinya untuk ikut marmangan-mangan jika tidak ada orang yang dipercayai orang tuanya diantara orang-orang yang akan marmangan-mangan tersebut karena acara seperti ini kadang-kadang bisa menjadi ajang pacaran berdua-duan yang ujung-ujungnya bermaksiat (Naudzubillah). Tapi pengalaman penulis sendiri, hampir tidak ada orang tua yang tidak membolehkan putrinya. Tapi bagi yang nekat dikarenakan misalnya pacarnya ikut, tetap saja tidak minta izin dengan orang tuanya.

Tapi sekarang acara ini sepengetahuan penulis sudah tidak jelas lagi dikarenakan setiap yang penulis lihat, yang marmangan-mangan adalah ABG yang hendak memuluskan acara (baca : maksiat) pacarannnya. Tapi bagaimanapun, kalau anda datang ke Mompang Julu, ayo masak-masak dan makan-makan di bawah rimbunnya pohon kelapa dengan tiupan angin sepoi-sepoi, diatas putihnya pasir sungai Aek Siala Payung sambil menatap sawah nan hijau dan pengunungan yang menjadi saksi indahnya ciptaan Ilahi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: