Papotang-potang Ari di Jambatan Huta Bargot

Kamis sore pada 01 Oktober lalu, penulis pergi dengan beberapa orang teman (5 sepeda motor) ke Pasarakat untuk mandi sambil mencuci kereta. Setelah mengisi bensi di galon simpang Gunung Barani, penulis dengan sepeda motor yang setia kemana saja, Honda Astrea Grand 1996 berboncengan dengan Amiruddin Pulungan yang juga merupakan salah seorang admin di blog ini. Suasasan persawahan merupakan pemandangan di sepanjang jalan sebelum dan setelah desa Gunung Barani-Manyabar-Pagaran Tonga-Gunung Manaon dan Adianjior. Penulis pada bulan Februari ketika melewati jalan lingkar tersebut melihat banyaknya badan jalan yang rusak dan berlobang disana-sini. Namun kali ini, hampir seluruh jalan di daerah ini baik dan sepertinya baru diperbaiki.

Ketika sampai di persimpangan di desa Adianjior, rombongan penulis membelok ke arah kanan, karena kalau kita ke arah sebelah kiri akan menuju ke arah Panyabungan. Setelah melewati jalan yang sedang diperbaiki karena pelebaran dan penggalian parit, penulis sampai di jembatan baru yang menghubungkan Adianjior dan Pasarakat. Jembatan ini memang baru selesai di kerjakan. Terlihat bahwa badan jalan jembatan sama sekali belum di aspal dan jalan ke dan dari jembatan itu juga belum diaspal.

Ketika penulis ke sana pada tahun 2008 lalu, media penyeberangan bagi yang akan pergi ke Pasarakat dan daerah-daerah di seberang sungai Batanggadis harus menggunakan getek, yaitu perahu penyeberangan. Sehingga mobil dan anggkutan berat tidak dapat melewatinya. Jika kita membawa mobil dan sejenisnya, harus melalui jalan satu-satunya via Aek Godang Dalan Lidang (jembatan depan MAN 1 Panyabungan). Setelah di mekarkan menjadi kabupaten, sepengetahuan penulis, ada 3 jembatan baru dibangun melintasi sungai Batanggadis, yaitu jembatan via Toguda Titi Kuning Dalan Lidang ke arah STAIM, jembatan Pasarakat dan jembatan terpanjang di Jambur Padang Matinggi. Penulis tidak mengetahui apakah ada jembatan baru di daerah Tano Tiris Tanggabosi.

Jembatan-Huta-Bargot

Sekarang, getek yang telah menjadi media penyeberangan itu hanya dibiarkan teronggok, ntah apakah memang dibiarkan “membusuk” begitu saja. Salah seorang kawan bercanda dengan mengatakan kenapa getek tersebut tidak di jadikan monumen seperti pesawat terbang di depan kantor gubernur Riau di Pekanbaru.

Di atas jembatan yang menjadi satu-satunya tempat paling tinggi di daerah itu, tampak pemandangan yang sangat indah. Mulai dari tor (bukit) Sigantang, Barerang dan rangkaian pegungunang Bukit Barisan, hamparan persawahan yang menguning dengan pohon-pohon kelapanya hingga aliran sungai yang berkelok-kelok bagaikan ular. Anda dapat melihatnya dengan mendownload videonya di sini. Tapi hasil rekaman yang hanya menggunakan ponsel Nokia 6600 tentu tidak begitu bagus karena hanya menggunakan kamera VGA.

Salah satu yang menarik di sini adalah, jembatan ini menjadi salah satu tempat “favorit” baru bagi yang pacaran. Mulai dari mejeng di atas jembatan sambil melihat pemandangan, hingga ke acara mandi-mandi di sungai yang kebanyakan dilakukan oleh ABG-ABG dari desa-desa di sekitarnya (walaupun mungkin ada yang dari Panyabungan). Yang terakhir ini menurut penulis harus dibatasi untuk menghindari hal-hal yang membawa mudharat. Namun yang menikmati pemandangan tidak hanya orang-orang seperti itu, karena ada juga beberapa keluarga dan orang yang sengaja atau memang kebetulan lewat di jembatan itu berhenti sejenak untuk meilihat indahnya alam anugrah Allah itu.

Setelah beberapa saat di atas jembatan, penulis dan rombongan bergerak ke tanah lapang di bawah jembatan tersebut. Setelah berfoto-foto sejenak, beberapa kawan langsung menceburkan diri ke sungai Bataggadis tersebut. Penulis sendiri tidak mandi karena tidak membawa perlengkapan mandi yang memadai.

Ketika sedang melihat kawan-kawan yang sedang marayup dengan seorang kawan yang juga tidak mandi, tiba-tiba penulis dan semua orang yang berada di sekitar jembatan itu merasakan bumi bergoyang. Mula-mula pelan, “ah, pasti ada mobil atau apa yang melintas di atas jembatan” pikir penulis. Memang jembatan tersebut walaupun hanya di lalui beca, memang bergoyang karena konstruksinya yang dirancang seperti itu karena letaknya di atas sungai yang tanah untuk pondasi tiangnya tidak pada. Tapi kawan yang di sebelah penulis mengatakan itu bukan karena ada mobil yang lewat, melainkan lalo (gempa). Tanpa di ulang, penulis yang kebetulan diatas sepeda motornya, segera tancap gas keluar dari bawah jembatan, khawatir jembatan rusak. Setelah itu penulis duduk di sebuah batang pohon kelapa yang tumbang, karena kalau kita berdiri, kepala terasa pusing karena seluruh tanah bergoyang-goyang. Kira-kira setelah 1,5 menit, getaran tersebut hilang. Penulis bertanya-tanya, di daerah manakah pusat gempa itu? Nias atau Padang, itu yang ada di benak penulis. Malamnya penulis mendengar telah terjadi gempa di Padang, Padang Pariaman dan sekitarnya dengan skala 7.6 pada skala richter.

Setelah kawan-kawan penulis selesai mandi dan mencuci kereta, hari sudah mulai gelap. Penulis dan rombongan bergerak ke arah Huta Bargot, karena sengaja mau mengambil jalan pulang lewat jembatan Jambur Padang Matinggi.

Jembatan_Huta_Bargot2

Jalanan yang sebagian besar rusak dan berlobang-lobang merupakan rute yang penulis lewati. Pembangunan memang hanya sedikit menyentuh daerah-daerah di seberang sungai Batanggadis ini (dalam istilah di Mandailing namanya Bariba), hal ini mungkin disebabkan oleh minimnya sarana transportasi ke daerah ini. Namun dengan dibangunnya jembatan-jembatan baru ini, 3-5 tahun ke depan, daerah ini akan maju dan tanah di daerah ini akan bernilai mahal (sekarangpun sudah mulai mahal). Banyaknya persimpangan jalan memang membuat bingung, untuk ada kawan penulis yang mengetahui jalannya walaupun sempat salah jalan. Sepanjang jalan, selain kampung-kampung yang relatif kecil (hanya beberapa rumah) walaupun yang lebih ramai dan persawahan, terdapat banyak kebun jagung, coklat, karet dan (yang mengherankan) ada setumpuk sawit di pinggir jalan entah di daerah apa namanya, padahal di daerah ini sangat jarang terdapat kebun kelapa sawit dan penulis sendiri belum pernah melihat pokoknya. Pada waktu adzan Magrib berkumandang, penulis sudah melewati jembatan di Jambur. Di sini jalannya di aspal bagus. Setelah Jambur, lalu penulis melewati  Aek Bingke-Kampung Baru-Sibaungbaung-Mompang Jae untuk sampai di Mompang Julu. Jam hampir menunjukkan jam 19.20 ketika penulis sampai di rumah di Mompang Julu. Penulis dan kawan-kawan juga merencanakan akan melakukan acara jalan-jalan ke Sibanggor, tetapi via Titi Kuning Dalan Lidang-Sirambas-Roburan-Sibanggor pada hari Jum’at.

Download Video Jembatan Bariba

3 Balasan ke Papotang-potang Ari di Jambatan Huta Bargot

  1. Ucox mengatakan:

    Salam kenal da tudongan2 sasudena namadung bergabung ison au Rasyid Nasution asal Gunung Barani tnggal i Bogor. Udukung do sude dongan2 namadung bergabung ison. Facebook ucox.nasty@yahoo.com

  2. lianlubis mengatakan:

    dompak na mulaki au taon 2009 inda pe adong jambatani.lewat au disi namarparau do manyiborang. Upainte tulisan namarlao-lao tu sibanggor,di waktu namulaki au ke do au tu sibannggor, marangkat ma ami sian gn.barani tu mompang julu,maradian ami donok masojiti,…ami toruskon pardalan tu jambur padang matinggi, torus malewati jambatan jambur adong dapot kampung tai inda uboto goar nikampungon, ami lewati kampungon dapot kampung Bulu Mario, Mondan,Pancinaran,Huta Bargot,Barbaran, Huta Tonga, Longat, antara longat dohot sirambas manyimpang ami tu kanan,bahat dope huta na ami lewati tai inda uboto goarna, sada maia na uboto goarna ima kampung Huta Raja donok sibanggor. Ulang komu lupa bere gambar2na da.

  3. lianlubis mengatakan:

    mangido mohof tu ipari rasyid nst, isema keluarganta di g.barani, aupe alak gunung barani do,tai madung onok utinggalkon tano hasorangani. ima di taon 1978.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: