Mudik Lebaran naik Astea Grand

Karena sudah kehabisan tiket disebabkan kesibukan mengurus masalah kuliah dan seminar skripsi dan batalnya family datang yang diharapkan bisa membawa sepeda motor penulis, penulis terpaksa memilih cara ekstrim untuk mudik pada Lebaran kemarin, yaitu naik sepeda motor tersebut. Dari pada di bawa pake bus Satu Nusa atau ALS yang ongkosnya lebih dari Rp 300 ribu plus penulis sendiri, mendingan di bawa sendiri, pikir penulis. Selain itu tentu saja tidak akan ada lagi tiket kecuali bersedia duduk di bangku tempel.. Kebetulan ada juga teman penulis asal Padang Sidempuan yang ingin mudik, tapi menggunakan sepeda motor Jupiter MX dengan radiator pendingin mesin, cc mesin yang besarnya 135 cc dan umur sepeda motor yang masih baru. Bandingkan dengan kereta penulis yang sudah tua, 110 cc dan buatan tahun 1996.

Setelah shalat Subuh pada Jum’at 2 hari menjelang lebaran, penulis berangkat dengan kawan tersebut tersebut ditambah 1 sepeda motor kawan dari penulis, tapi ke arah Sibolga. Yang menjadi tantangan selain kemampuan sepeda motor tua penulis (sepeda motor penulis mungkin mengalami bocor reng), hujan juga turun. Kadang deras, kadang hanya gerimis. Dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam (rombongan terpaksa menyesuaikan kecepatannya dengan kecepatan penulis agar penulis tidak ketinggalan), penulis dan rombongan sampai di Parapat hampir tepat pada jam 10.00 WIB dan penulis mengisi bensin untuk pertama kali. Kawan yang lain juga mengisi bensin, tapi sudah yang ke-2 kalinya. Hal ini bisa dimengerti karena Astrea Grand sepeda motor 2 tak yang irit. Di jalanan, ternyata banyak juga orang yang mudik. Mulai dari yang kelihatannya sendiri, berboncengan dan rombongan keluarga.

Hujan sepertinya sudah berhenti sejak melewati Tebing Tinggi. Kira-kira jam 12.10, penulis dan rombongan sampai di Tarutung. Mesjid tidak ditemukan penulis di daerah ini, sehingga di putuskan shalat akan di jamak qashar. Setelah beristirahat dengan duduk-duduk sebentar dan mengisi bensin, rombongan kembali melanjutkan perjalanan yang kemudian akan menemui masalah yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Setelah sampai di Tarutung, 1 sepeda motor yang sebelumnya bersama penulis berpisah karena mereka mengambil jalan ke Sibolga. Penulis dan 1 sepeda motor yang tersisa (berboncengan) bergerak menuju Sipirok. Diperkirakan jam 16.00 sudah sampai di Padang Sidempuan. Tetapi setelah melewati Tarutung, hujan turun dengan derasnya. Penulis mengira hujan ini tidak luas, tetapi setelah melewati kira-kira 7 km, hujan tidak juga berhenti. Ketika menemukan sebuah warung di daerah berhutan yang juga kelihatannya dijadikan tempat berteduh oleh pemudik lainnya, penulis memutuskan berhenti. Sepeda motor penulis di matikan dan di sandarkan menggunakan cagak (standar) 1 dan disinilah awal kemalangan (baca:ujian) yang dialami penulis.

Setelah meminta plastik kepada pemilik warung yang baik hati, penulis kembali ke sepeda motor yang diparkir di tengan hujan deras. Ketika di coba di starter, sepeda motor tersebut tidak mau hidup. Di engkol pun tidak berhasil. Kawan penulis yang mengetahui banyak hal tentang seluk-beluk mesin dan bengkel pun menyerah, karena busi sudah basah dan busi cadangan yang dibawa ternyata juga basah. Dan yang lebih parah lagi, cok businya pun tiba-tiba rusak. Seketika panik melanda penulis.

Akhirnya sepeda motor tersebut di dorong untuk dicarikan bengkel. Tapi setalah mendaki dengan susah payah dan meluncur pada jalanan yang menurun, tidak ada dijumpai bengkel sama sekali. Ketika sampai disebuah perkampungan, penulis dan kawan penulis bertanya pada seseorang dan mengagetkan karena seperti penuturannya, tidak ada bengkel di sekitar situ. Yang ada hanya hutan. Setelah mendorong kereta lagi dan di bantu kawan tersebut sampai 3 km, penulis menjumpai rombongan pemudik yang sedang beristirahat dan ketika ditanya apakah ada yang membawa busi cadangan, semua menjawab tidak ada. Akhirnya penulis dan kawan penulis mencoba berbagai cara, mulai dari membakar busi dengan bensin dengan harapan biar kering, membersihkan lobang busi, gonta-ganti busi, gunting kabel busi sampai menyerah dengan meminta rombongan pemudik itu untuk memperbaikinya, namun tidak juga berhasil. Jam sudah menujukkan kira-kira jam 16.05 dan yang paling membuat penulis tidak enak hati adalah kawan satu rombongan penulis yang terpaksa membatalkan agenda-agendanya karena target jam 16.00 sampai di Padang Sidempuan tidak terpenuhi.

Setelah dicarikan bengkel terdekat dengan sepeda motor kawan penulis juga tidak berhasil, akhirnya diputuskan untuk membawa sepeda motor penulis dengan mobil atau truk apa saja yang bersedia membawanya. Setelah mencoba menyetop beberapa truk dan tidak bersedia, akhirnya sebuah truk pasir mau membawa sepeda motor penulis tersebut dan menurut mereka bengkel terdekat ada di Sarulla, kira-kira 15 km dari tempat kami.

Kira-kira jam 16.30, penulis yang berada di dalam truk tersebut sampai di Sarulla dan segera diturunkan di depan sebuah bengkel. Kawan penulis mengikuti dengan sepeda motornya berboncengan dengan seorang kawan yang memang sudah dari Medan. Setelah busi dan cok businya diganti, kereta segera hidup. Penulis sangat senang sekali karena dengan demikian perjalan mudik bisa diteruskan. Diperjalanan setelah itu penulis melihat beberapa pemudik yang bernasib seperti penulis. Mulai dari bocor ban, mesin mati karena busi dan sebagainya. Ada yang sendirian mendorong sepeda motornya di tengah guyuran hujan di area hutan-hutan, ada yang ketinggalan rombongannya dan mengalami bocor ban dan sebagainya. Tapi apa hendak dikata, hendak dibantu pun, penulis tidak mempunyai kemampuan.

Setelah meninggalkan Sarulla dan perbatasan Tapanuli Utara-Tapanuli Selatan, hujan sekali lagi turun dengan derasnya. Adzan Magrib berkumandang ketika penulis dan rombongan memasuki kota Padang Sidempuan. Setelah berbuka di rumah teman penulis, penulis tinggal sendirian melanjutkan perjalanan ke arah Panyabungan dan jalan sampai perbatasan Mandailing Natal sangat bagus karena baru selesai di aspal, padahal sebelumnya penuh dengan lobang dan tempelan. Bensin yang tersisa sebenarnya cukup ketika diisi di Tarutung, namun karena diambil ketika mencoba memperbaiki busi, terpaksa penulis mengisi bensin di Simangambat. Daripada nanti mogok lagi ditengah jalan karena kehabisan bensin, pikir penulis. Kira-kira jam 20.25, Alhamdulillah, penulis akhirnya sampai juga di rumah di Mompang Julu walaupun dengan kondisi basah kuyup dan kedinginan (tas penulis hanya basah sedikit karena dibungkus plastik). Sebuah pelajaran berharga didapat penulis ketika mudik, mulai dari masalah mesin dan sepeda motor, hingga kondisi cuaca dan alam yang harus dihadapi ketika melakukan perjalanan.

2 Balasan ke Mudik Lebaran naik Astea Grand

  1. UKASSAH mengatakan:

    kenapa ga pake Bahasa batak saya, biar enak baca dan nyimak jalan ceritanya.

  2. Medysept 91 mengatakan:

    Perjalanan yang melelahkan tentunya bro🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: