Antara Shalat dan Durian Runtuh

Sebenarnya pada bulan puasa Ramadhan ini, tidak sepantasnya kita membicarakan keburukan dan kejelekan orang lain. Tapi, maksud kami memuat kisah nyata ini adalah sebagai bahan pelajaran kepada kita bersama dalam memilah waktu untuk kegiatan dunia dan akhirat. Untuk menjaga nama baik pelaku, nama aslinya sengaja kami samarkan.

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Mompang Julu pada musim durian untuk manjolung (memeriksa apakah ada durian yang jatuh pada pokoknya) maupun menjaga pokok duriannya bagi yang memiliki pohon durian. Walaupun tidak ada peraturan resmi, namun siapa yang kebetulan mendapat durian di bawah pokoknya, maka otomtis akan menjadi miliknya, sekalipun yang mempunyai durian sendiri kebetulan ada di sekitarnya, dan yang punya pun akan mengerti dan memberikannya.

Tapi tidak demikian bagi beberapa orang yang bisa di cap Pelit. Sebut saja pak Dapot yang memiliki beberapa pohon durian di parlayanan ke arah tor Gonting Sihim. Kalau ada buah durian yang jatuh dan dia mendengarnya, dengan segera ia akan berlari ke arah jatuhnya durian itu, dan kalau ada orang yang kebetulan sudah mendapatkan duriannya, dengan tidak segan-segan akan kembali dimintanya, kecuali bersedia membayar. Beberapa orang yang sudah merasakan kepelitannya hanya bisa berdecak kagum dengan kepelitannya itu.

Pak Dapot sebetulnya termasuk orang alim. Dan sebelum peristiwa ini, dia sering dijadikan imam shalat, baik di mesjid maupun di dekat kebunnya yang kebetulan ada sebuah surau di situ. Tapi peristiwa hari itu mengubah segalanya. Tersebutlah pada waktu itu sudah masuk waktu shalat Ashar (kalau tidak salah). Pak Dapot yang kebetulan lagi istirahat dari menjaga duriannya (dan kebetulan waktu itu juga tidak ada durian yang jatuh), didaulat sebagai imam shalat. “AllahuAkbar..” dan shalatpun dimulai dengan khusuk. Beberapa orang yang kebetulan hendak pulang dari kebun di sekitar tempat itu juga ikut shalat sebagai makmum. Ketika shalat lagi khusuk-khusuknya, “burrr…brbesss..” terdengar suara durian jatuh. Dari suaranya, sepertinya durian yang jatuh itu sangat besar dan sudah matang. Pak Dapot yang mendengar suara itu, tiba-tiba konsentrasi shalatnya buyar seketika dan yang membuat semua makmum terkejut, tiba-tiba pak Dapot meloncat dari surau itu dan berlari ke arah suara jatuhnya durian itu meninggalkan jamaah shalatnya yang terkejut bukan main. Padahal pak Dapot ketika itu sedang imam shalat berjamaah! Walaupun sebenarnya posisi pak Dapot bisa digantikan oleh salah seorang makmum, namun shalat berjamaah itu jadi batal karena para jamaah yang bengong terkejut bukan kepalang melihat kelakuan pak Dapot ini.

Sejak saat itu, kalau kebetulan pak Dapot lagi menjaga duriannya, banyak orang yang melempari atap gubuknya dengan benda yang bersuara keras, sebagai sindiran kepadanya yang lebih mementingkan durian dari pada menghadap Tuhannya. Pernah juga ketika ia lagi imam shalat berjamaah di mesjid, ada orang yang melempar atap mesjid dan mengatakan “Durian besar jatuh!”. Tidak diketahui bagaimana perasaan pak Dapot ketika mendengar caci maki seperti itu. Mudah-mudahan kita tidak mnejadi orang yang tergadai imannya hanya karena urusan duniawi.

Oleh : Amiruddin Pulungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: