Orang Mompang Jadi Caleg?

Berhubung dengan Pemilu 09 April lalu, ternyata ada juga beberapa orang anggota masyarakat Mompang Julu yang mencoba “peruntungan” dengan menjadi seorang caleg (calon anggota legeslatif). Ada sekitar 8 orang, sebut saja Helmi Borotan dari Partai Matahari Bangsa (PMB), Rahmad Nasution dari Partai Gerindra, Rahmad (parlopo) dari partai Demokrat, Hendri Nasutionn dari PKB, boru (putri) pak Jaksa yang namanya saya lupa dari PDI-P, bahkan seorang tukang becak di Banjar Lombang ikut mencoba peruntungan ini. Kita memang tidak tahu apa sebenarnya orang-orang ini mempunyai kapabilitas di bidang politik atau hanya sekedar untuk mencari “nasib yang lebih bagus” ketimbang keadaannya yang sekarang. Para caleg-caleg ini mau tidak mau harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pencalegannya itu, mulai dari membiayai para TS (Tim Sukses), membayar biaya poster/spanduk, kaos sampai bantuan ke pengajian ibu-ibu. Tapi tentu saja tidak semua caleg ini memiliki dana yang banyak seperti Rahmad Nasution yang diisukan sampai menghabiskan 60 juta. Sebut saja putri pak Jaksa yang dari pengamatan saya hanya mempunyai 1 baliho kecil di Mompang Julu. Itupun numpang dengan salah seorang caleg PDI-P untuk dapil DPRD Sumut.

Dari hasil sementara yang masuk ke redaksi kami, pada 9 April lalu yang keluar menjadi pemenang Pemilu di Mompang Julu adalah Partai Demokrat dan disusul PDI-P. Hal ini tentu saja menjadi fenomena menarik karena sebelumnya partai-partai Islam tidak pernah terkalahkan di desa ini (sebut saja PPP). Yang membuat penulis tidak habis pikir adalah kemenangan PDI-P di kampung ini (urutan ke-2). Walaupun pak Kades Porkas Hasibuan menjadi TS-nya di kampung ini ditambah dengan kefanatikan para Hasibuan karena hal itu, tapi seharusnya mereka harus melihat platform partainya dulu dimana PDI-P terkenal sebagai partai yang sangat alergi terhadap semua hal yang berbau syariah Islam dan ini tentu saja bertentangan dengan semua masyarakat Mompang Julu yang religius.

Lalu, bagaimana nasib caleg-caleg tadi? Masih belum jelas, karena hasil pemungutan suara belum selesai dihitung di KPPS di kecamatan. Semoga saja bagi yang kalah tidak bersikap seperti beberapa celeg yang stress seperti yang senter diberitakan di berbagai media.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: