Papotang-potang Ari di Jambatan Huta Bargot

14 Oktober 2009

Kamis sore pada 01 Oktober lalu, penulis pergi dengan beberapa orang teman (5 sepeda motor) ke Pasarakat untuk mandi sambil mencuci kereta. Setelah mengisi bensi di galon simpang Gunung Barani, penulis dengan sepeda motor yang setia kemana saja, Honda Astrea Grand 1996 berboncengan dengan Amiruddin Pulungan yang juga merupakan salah seorang admin di blog ini. Suasasan persawahan merupakan pemandangan di sepanjang jalan sebelum dan setelah desa Gunung Barani-Manyabar-Pagaran Tonga-Gunung Manaon dan Adianjior. Penulis pada bulan Februari ketika melewati jalan lingkar tersebut melihat banyaknya badan jalan yang rusak dan berlobang disana-sini. Namun kali ini, hampir seluruh jalan di daerah ini baik dan sepertinya baru diperbaiki.

Ketika sampai di persimpangan di desa Adianjior, rombongan penulis membelok ke arah kanan, karena kalau kita ke arah sebelah kiri akan menuju ke arah Panyabungan. Setelah melewati jalan yang sedang diperbaiki karena pelebaran dan penggalian parit, penulis sampai di jembatan baru yang menghubungkan Adianjior dan Pasarakat. Jembatan ini memang baru selesai di kerjakan. Terlihat bahwa badan jalan jembatan sama sekali belum di aspal dan jalan ke dan dari jembatan itu juga belum diaspal.

Ketika penulis ke sana pada tahun 2008 lalu, media penyeberangan bagi yang akan pergi ke Pasarakat dan daerah-daerah di seberang sungai Batanggadis harus menggunakan getek, yaitu perahu penyeberangan. Sehingga mobil dan anggkutan berat tidak dapat melewatinya. Jika kita membawa mobil dan sejenisnya, harus melalui jalan satu-satunya via Aek Godang Dalan Lidang (jembatan depan MAN 1 Panyabungan). Setelah di mekarkan menjadi kabupaten, sepengetahuan penulis, ada 3 jembatan baru dibangun melintasi sungai Batanggadis, yaitu jembatan via Toguda Titi Kuning Dalan Lidang ke arah STAIM, jembatan Pasarakat dan jembatan terpanjang di Jambur Padang Matinggi. Penulis tidak mengetahui apakah ada jembatan baru di daerah Tano Tiris Tanggabosi.

Jembatan-Huta-Bargot

Sekarang, getek yang telah menjadi media penyeberangan itu hanya dibiarkan teronggok, ntah apakah memang dibiarkan “membusuk” begitu saja. Salah seorang kawan bercanda dengan mengatakan kenapa getek tersebut tidak di jadikan monumen seperti pesawat terbang di depan kantor gubernur Riau di Pekanbaru.

Di atas jembatan yang menjadi satu-satunya tempat paling tinggi di daerah itu, tampak pemandangan yang sangat indah. Mulai dari tor (bukit) Sigantang, Barerang dan rangkaian pegungunang Bukit Barisan, hamparan persawahan yang menguning dengan pohon-pohon kelapanya hingga aliran sungai yang berkelok-kelok bagaikan ular. Anda dapat melihatnya dengan mendownload videonya di sini. Tapi hasil rekaman yang hanya menggunakan ponsel Nokia 6600 tentu tidak begitu bagus karena hanya menggunakan kamera VGA.

Salah satu yang menarik di sini adalah, jembatan ini menjadi salah satu tempat “favorit” baru bagi yang pacaran. Mulai dari mejeng di atas jembatan sambil melihat pemandangan, hingga ke acara mandi-mandi di sungai yang kebanyakan dilakukan oleh ABG-ABG dari desa-desa di sekitarnya (walaupun mungkin ada yang dari Panyabungan). Yang terakhir ini menurut penulis harus dibatasi untuk menghindari hal-hal yang membawa mudharat. Namun yang menikmati pemandangan tidak hanya orang-orang seperti itu, karena ada juga beberapa keluarga dan orang yang sengaja atau memang kebetulan lewat di jembatan itu berhenti sejenak untuk meilihat indahnya alam anugrah Allah itu.

Setelah beberapa saat di atas jembatan, penulis dan rombongan bergerak ke tanah lapang di bawah jembatan tersebut. Setelah berfoto-foto sejenak, beberapa kawan langsung menceburkan diri ke sungai Bataggadis tersebut. Penulis sendiri tidak mandi karena tidak membawa perlengkapan mandi yang memadai.

Ketika sedang melihat kawan-kawan yang sedang marayup dengan seorang kawan yang juga tidak mandi, tiba-tiba penulis dan semua orang yang berada di sekitar jembatan itu merasakan bumi bergoyang. Mula-mula pelan, “ah, pasti ada mobil atau apa yang melintas di atas jembatan” pikir penulis. Memang jembatan tersebut walaupun hanya di lalui beca, memang bergoyang karena konstruksinya yang dirancang seperti itu karena letaknya di atas sungai yang tanah untuk pondasi tiangnya tidak pada. Tapi kawan yang di sebelah penulis mengatakan itu bukan karena ada mobil yang lewat, melainkan lalo (gempa). Tanpa di ulang, penulis yang kebetulan diatas sepeda motornya, segera tancap gas keluar dari bawah jembatan, khawatir jembatan rusak. Setelah itu penulis duduk di sebuah batang pohon kelapa yang tumbang, karena kalau kita berdiri, kepala terasa pusing karena seluruh tanah bergoyang-goyang. Kira-kira setelah 1,5 menit, getaran tersebut hilang. Penulis bertanya-tanya, di daerah manakah pusat gempa itu? Nias atau Padang, itu yang ada di benak penulis. Malamnya penulis mendengar telah terjadi gempa di Padang, Padang Pariaman dan sekitarnya dengan skala 7.6 pada skala richter.

Setelah kawan-kawan penulis selesai mandi dan mencuci kereta, hari sudah mulai gelap. Penulis dan rombongan bergerak ke arah Huta Bargot, karena sengaja mau mengambil jalan pulang lewat jembatan Jambur Padang Matinggi.

Jembatan_Huta_Bargot2

Jalanan yang sebagian besar rusak dan berlobang-lobang merupakan rute yang penulis lewati. Pembangunan memang hanya sedikit menyentuh daerah-daerah di seberang sungai Batanggadis ini (dalam istilah di Mandailing namanya Bariba), hal ini mungkin disebabkan oleh minimnya sarana transportasi ke daerah ini. Namun dengan dibangunnya jembatan-jembatan baru ini, 3-5 tahun ke depan, daerah ini akan maju dan tanah di daerah ini akan bernilai mahal (sekarangpun sudah mulai mahal). Banyaknya persimpangan jalan memang membuat bingung, untuk ada kawan penulis yang mengetahui jalannya walaupun sempat salah jalan. Sepanjang jalan, selain kampung-kampung yang relatif kecil (hanya beberapa rumah) walaupun yang lebih ramai dan persawahan, terdapat banyak kebun jagung, coklat, karet dan (yang mengherankan) ada setumpuk sawit di pinggir jalan entah di daerah apa namanya, padahal di daerah ini sangat jarang terdapat kebun kelapa sawit dan penulis sendiri belum pernah melihat pokoknya. Pada waktu adzan Magrib berkumandang, penulis sudah melewati jembatan di Jambur. Di sini jalannya di aspal bagus. Setelah Jambur, lalu penulis melewati  Aek Bingke-Kampung Baru-Sibaungbaung-Mompang Jae untuk sampai di Mompang Julu. Jam hampir menunjukkan jam 19.20 ketika penulis sampai di rumah di Mompang Julu. Penulis dan kawan-kawan juga merencanakan akan melakukan acara jalan-jalan ke Sibanggor, tetapi via Titi Kuning Dalan Lidang-Sirambas-Roburan-Sibanggor pada hari Jum’at.

Download Video Jembatan Bariba


Mudik Lebaran naik Astea Grand

13 Oktober 2009

Karena sudah kehabisan tiket disebabkan kesibukan mengurus masalah kuliah dan seminar skripsi dan batalnya family datang yang diharapkan bisa membawa sepeda motor penulis, penulis terpaksa memilih cara ekstrim untuk mudik pada Lebaran kemarin, yaitu naik sepeda motor tersebut. Dari pada di bawa pake bus Satu Nusa atau ALS yang ongkosnya lebih dari Rp 300 ribu plus penulis sendiri, mendingan di bawa sendiri, pikir penulis. Selain itu tentu saja tidak akan ada lagi tiket kecuali bersedia duduk di bangku tempel.. Kebetulan ada juga teman penulis asal Padang Sidempuan yang ingin mudik, tapi menggunakan sepeda motor Jupiter MX dengan radiator pendingin mesin, cc mesin yang besarnya 135 cc dan umur sepeda motor yang masih baru. Bandingkan dengan kereta penulis yang sudah tua, 110 cc dan buatan tahun 1996.

Setelah shalat Subuh pada Jum’at 2 hari menjelang lebaran, penulis berangkat dengan kawan tersebut tersebut ditambah 1 sepeda motor kawan dari penulis, tapi ke arah Sibolga. Yang menjadi tantangan selain kemampuan sepeda motor tua penulis (sepeda motor penulis mungkin mengalami bocor reng), hujan juga turun. Kadang deras, kadang hanya gerimis. Dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam (rombongan terpaksa menyesuaikan kecepatannya dengan kecepatan penulis agar penulis tidak ketinggalan), penulis dan rombongan sampai di Parapat hampir tepat pada jam 10.00 WIB dan penulis mengisi bensin untuk pertama kali. Kawan yang lain juga mengisi bensin, tapi sudah yang ke-2 kalinya. Hal ini bisa dimengerti karena Astrea Grand sepeda motor 2 tak yang irit. Di jalanan, ternyata banyak juga orang yang mudik. Mulai dari yang kelihatannya sendiri, berboncengan dan rombongan keluarga.

Hujan sepertinya sudah berhenti sejak melewati Tebing Tinggi. Kira-kira jam 12.10, penulis dan rombongan sampai di Tarutung. Mesjid tidak ditemukan penulis di daerah ini, sehingga di putuskan shalat akan di jamak qashar. Setelah beristirahat dengan duduk-duduk sebentar dan mengisi bensin, rombongan kembali melanjutkan perjalanan yang kemudian akan menemui masalah yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Setelah sampai di Tarutung, 1 sepeda motor yang sebelumnya bersama penulis berpisah karena mereka mengambil jalan ke Sibolga. Penulis dan 1 sepeda motor yang tersisa (berboncengan) bergerak menuju Sipirok. Diperkirakan jam 16.00 sudah sampai di Padang Sidempuan. Tetapi setelah melewati Tarutung, hujan turun dengan derasnya. Penulis mengira hujan ini tidak luas, tetapi setelah melewati kira-kira 7 km, hujan tidak juga berhenti. Ketika menemukan sebuah warung di daerah berhutan yang juga kelihatannya dijadikan tempat berteduh oleh pemudik lainnya, penulis memutuskan berhenti. Sepeda motor penulis di matikan dan di sandarkan menggunakan cagak (standar) 1 dan disinilah awal kemalangan (baca:ujian) yang dialami penulis.

Setelah meminta plastik kepada pemilik warung yang baik hati, penulis kembali ke sepeda motor yang diparkir di tengan hujan deras. Ketika di coba di starter, sepeda motor tersebut tidak mau hidup. Di engkol pun tidak berhasil. Kawan penulis yang mengetahui banyak hal tentang seluk-beluk mesin dan bengkel pun menyerah, karena busi sudah basah dan busi cadangan yang dibawa ternyata juga basah. Dan yang lebih parah lagi, cok businya pun tiba-tiba rusak. Seketika panik melanda penulis.

Akhirnya sepeda motor tersebut di dorong untuk dicarikan bengkel. Tapi setalah mendaki dengan susah payah dan meluncur pada jalanan yang menurun, tidak ada dijumpai bengkel sama sekali. Ketika sampai disebuah perkampungan, penulis dan kawan penulis bertanya pada seseorang dan mengagetkan karena seperti penuturannya, tidak ada bengkel di sekitar situ. Yang ada hanya hutan. Setelah mendorong kereta lagi dan di bantu kawan tersebut sampai 3 km, penulis menjumpai rombongan pemudik yang sedang beristirahat dan ketika ditanya apakah ada yang membawa busi cadangan, semua menjawab tidak ada. Akhirnya penulis dan kawan penulis mencoba berbagai cara, mulai dari membakar busi dengan bensin dengan harapan biar kering, membersihkan lobang busi, gonta-ganti busi, gunting kabel busi sampai menyerah dengan meminta rombongan pemudik itu untuk memperbaikinya, namun tidak juga berhasil. Jam sudah menujukkan kira-kira jam 16.05 dan yang paling membuat penulis tidak enak hati adalah kawan satu rombongan penulis yang terpaksa membatalkan agenda-agendanya karena target jam 16.00 sampai di Padang Sidempuan tidak terpenuhi.

Setelah dicarikan bengkel terdekat dengan sepeda motor kawan penulis juga tidak berhasil, akhirnya diputuskan untuk membawa sepeda motor penulis dengan mobil atau truk apa saja yang bersedia membawanya. Setelah mencoba menyetop beberapa truk dan tidak bersedia, akhirnya sebuah truk pasir mau membawa sepeda motor penulis tersebut dan menurut mereka bengkel terdekat ada di Sarulla, kira-kira 15 km dari tempat kami.

Kira-kira jam 16.30, penulis yang berada di dalam truk tersebut sampai di Sarulla dan segera diturunkan di depan sebuah bengkel. Kawan penulis mengikuti dengan sepeda motornya berboncengan dengan seorang kawan yang memang sudah dari Medan. Setelah busi dan cok businya diganti, kereta segera hidup. Penulis sangat senang sekali karena dengan demikian perjalan mudik bisa diteruskan. Diperjalanan setelah itu penulis melihat beberapa pemudik yang bernasib seperti penulis. Mulai dari bocor ban, mesin mati karena busi dan sebagainya. Ada yang sendirian mendorong sepeda motornya di tengah guyuran hujan di area hutan-hutan, ada yang ketinggalan rombongannya dan mengalami bocor ban dan sebagainya. Tapi apa hendak dikata, hendak dibantu pun, penulis tidak mempunyai kemampuan.

Setelah meninggalkan Sarulla dan perbatasan Tapanuli Utara-Tapanuli Selatan, hujan sekali lagi turun dengan derasnya. Adzan Magrib berkumandang ketika penulis dan rombongan memasuki kota Padang Sidempuan. Setelah berbuka di rumah teman penulis, penulis tinggal sendirian melanjutkan perjalanan ke arah Panyabungan dan jalan sampai perbatasan Mandailing Natal sangat bagus karena baru selesai di aspal, padahal sebelumnya penuh dengan lobang dan tempelan. Bensin yang tersisa sebenarnya cukup ketika diisi di Tarutung, namun karena diambil ketika mencoba memperbaiki busi, terpaksa penulis mengisi bensin di Simangambat. Daripada nanti mogok lagi ditengah jalan karena kehabisan bensin, pikir penulis. Kira-kira jam 20.25, Alhamdulillah, penulis akhirnya sampai juga di rumah di Mompang Julu walaupun dengan kondisi basah kuyup dan kedinginan (tas penulis hanya basah sedikit karena dibungkus plastik). Sebuah pelajaran berharga didapat penulis ketika mudik, mulai dari masalah mesin dan sepeda motor, hingga kondisi cuaca dan alam yang harus dihadapi ketika melakukan perjalanan.


Selamat Hari Raya Idul Fitri

16 September 2009

Lebaran


Antara Shalat dan Durian Runtuh

15 September 2009

Sebenarnya pada bulan puasa Ramadhan ini, tidak sepantasnya kita membicarakan keburukan dan kejelekan orang lain. Tapi, maksud kami memuat kisah nyata ini adalah sebagai bahan pelajaran kepada kita bersama dalam memilah waktu untuk kegiatan dunia dan akhirat. Untuk menjaga nama baik pelaku, nama aslinya sengaja kami samarkan.

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Mompang Julu pada musim durian untuk manjolung (memeriksa apakah ada durian yang jatuh pada pokoknya) maupun menjaga pokok duriannya bagi yang memiliki pohon durian. Walaupun tidak ada peraturan resmi, namun siapa yang kebetulan mendapat durian di bawah pokoknya, maka otomtis akan menjadi miliknya, sekalipun yang mempunyai durian sendiri kebetulan ada di sekitarnya, dan yang punya pun akan mengerti dan memberikannya.

Tapi tidak demikian bagi beberapa orang yang bisa di cap Pelit. Sebut saja pak Dapot yang memiliki beberapa pohon durian di parlayanan ke arah tor Gonting Sihim. Kalau ada buah durian yang jatuh dan dia mendengarnya, dengan segera ia akan berlari ke arah jatuhnya durian itu, dan kalau ada orang yang kebetulan sudah mendapatkan duriannya, dengan tidak segan-segan akan kembali dimintanya, kecuali bersedia membayar. Beberapa orang yang sudah merasakan kepelitannya hanya bisa berdecak kagum dengan kepelitannya itu.

Pak Dapot sebetulnya termasuk orang alim. Dan sebelum peristiwa ini, dia sering dijadikan imam shalat, baik di mesjid maupun di dekat kebunnya yang kebetulan ada sebuah surau di situ. Tapi peristiwa hari itu mengubah segalanya. Tersebutlah pada waktu itu sudah masuk waktu shalat Ashar (kalau tidak salah). Pak Dapot yang kebetulan lagi istirahat dari menjaga duriannya (dan kebetulan waktu itu juga tidak ada durian yang jatuh), didaulat sebagai imam shalat. “AllahuAkbar..” dan shalatpun dimulai dengan khusuk. Beberapa orang yang kebetulan hendak pulang dari kebun di sekitar tempat itu juga ikut shalat sebagai makmum. Ketika shalat lagi khusuk-khusuknya, “burrr…brbesss..” terdengar suara durian jatuh. Dari suaranya, sepertinya durian yang jatuh itu sangat besar dan sudah matang. Pak Dapot yang mendengar suara itu, tiba-tiba konsentrasi shalatnya buyar seketika dan yang membuat semua makmum terkejut, tiba-tiba pak Dapot meloncat dari surau itu dan berlari ke arah suara jatuhnya durian itu meninggalkan jamaah shalatnya yang terkejut bukan main. Padahal pak Dapot ketika itu sedang imam shalat berjamaah! Walaupun sebenarnya posisi pak Dapot bisa digantikan oleh salah seorang makmum, namun shalat berjamaah itu jadi batal karena para jamaah yang bengong terkejut bukan kepalang melihat kelakuan pak Dapot ini.

Sejak saat itu, kalau kebetulan pak Dapot lagi menjaga duriannya, banyak orang yang melempari atap gubuknya dengan benda yang bersuara keras, sebagai sindiran kepadanya yang lebih mementingkan durian dari pada menghadap Tuhannya. Pernah juga ketika ia lagi imam shalat berjamaah di mesjid, ada orang yang melempar atap mesjid dan mengatakan “Durian besar jatuh!”. Tidak diketahui bagaimana perasaan pak Dapot ketika mendengar caci maki seperti itu. Mudah-mudahan kita tidak mnejadi orang yang tergadai imannya hanya karena urusan duniawi.

Oleh : Amiruddin Pulungan


Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1430 H

27 Agustus 2009

Kami dari admin mompangjulu.wordpress.com mengucapkan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA. Semoga puasa kita tahun ini bisa menjadikan kita sebagai manusia yang memiliki karakter yang Islami.